Ada banyak manusia yang bila di puji begitu berbunga-bunga hatinya dan senyuman mengembang di sana-sini, namun ketika datang hinaan dan caci maki mukanya langsung berwajah masam, cemberut dan ditekuk "17 setan ". Ya biasanya memang demikian adanya, kebanyakan manusia senang pada pujian, padahal bisa jadi pujian itu "racun" yang mematikan, bisa mamatikan kreatifitas berpikir, membuat buntu ide-ide baru dan sebagainya.
Dan manusia sering kali marah, emosional, jengkel, keqi dan berbagai persaan yang negatif berkecamuk di dalam dirinya bila mendapat hinaan, caci maki, kritik, apa lagi kritik yang menjatuhkan, memang demikian biasanya. Nah untuk untuk kebiasaan-kibiasaan tersebut itu tulisan ini dibuat, coba mari kita simak baik-bait ini :
Setiap pembawa risalahNya
Akan selalu mendapat caci maki, fitnah dan penolakan
Yang datang bukan saja dari orang lain atau umat
Tapi juga dari orang-orang yang terdekat dengan mereka
Sejarah Islam mencatat antara lain
Nabi Nuh dan Nabi Luth oleh istri dan anak serta umatnya
Nabi Ibrohim oleh bapak dan umatnya
Nabi Yusuf oleh saudara-saudara tirinya
Nabi Musa oleh ummatnya di usir dari tanah kelahirannya
Nabi Muhammad SAW oleh pamannya dan umatnya
Dan perlu dicatat
Mereka pembawa risalah adalah jiwa-jiwa yang tabah, sabar dan tawakal
Dan tidak mundur hanya karena caci maki, fitnah, ditolak, bahkan nyawa taruhannya
Seperti ....
Umar Mukhtar yang digantung dan tasbih tetap dalam genggamannya
Muhammad Qutub, Ali Audah juga digantung
Tiga sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW Umar, Usman dan Ali
Ketiganya mati terbunuh
Ingat ....
Caci maki manusia,tidak menyebabkan kamu masuk neraka
Jadi jangan takut dan pesimis
Pujian dan sanjungan manusia, tidak menyebabkan kamu masuk syurga
Maka jangan angkuh dan sombong
Jadi caci maki dan pujian pada hakekatnya sama
Bagi orang yang beriman tak merubah apa-apa
Caci maki dan pujian manusia
Tak penting dan bukan masalah
Yang penting dan bermasalah
Jika caci maki atau kutukan datangnya dari Allah SWT
Jadi setelah membaca bait-bait di atas, semoga kita tak lagi merasa jengkel dengan segala macam hinaan dan tak segera membusungkan dada ketika mendapat pujian. Semuanya ditanggapi dengan "biasa saja" Kok bisa, ya bisa aja, kenapa tidak ? Toh pujian dan hinaan ibarat dua sisi mata uang, yang bila satu muncul dipermukaan, yang satunya sedang mengintip untuk siap-siap muncul di suatu saat. Jika yang muncul hinaan, pujian sedang bersembunyi di balik layar dan sebaliknya bila pujian yang datang, hinaan ada di belakangnya. Begitu seterusnya.